Kamis, September 10, 2009

Pelajaran dari Kisah Ramayana

Sebagian dari kita tentu mengenal kisah Ramayana, yang konon ditulis oleh Resi Walmiki. Sindhunata menuliskan kisah Ramayana ini dalam bukunya yang berjudul “Anak Bajang Menggiring Angin” (diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1983).

Aku selalu merasa sedih dan menyesal setiap membaca bagian akhir dari buku itu. Rahwana sudah dibinasakan, Sinta sudah diselamatkan. Tapi Rama tetap menyangsikan kesucian Sinta.

Sinta : Rama, ketahuilah, tahun-tahun telah berlalu, belum sekecap aku menikmati kebahagiaan bersamamu. Aku telah ditakdirkan untuk menderita, penderitaan telah menjadi hidupku. Demikian penderitaan telah menjadikan aku, sampai aku sendiri telah menjadi penderitaan itu. Penderitaan itu telah membuatku tak berdaya untuk meraih kemuliaan, bahkan andaikata aku berdaya, aku tak berani membayangkan kemuliaan itu, karena kemuliaan itu bukan milikku. Tapi aku percaya Rama, karena penderitaankulah maka kemuliaan menjadi milikmu. Sebagai wanita aku hanya ingin menumpang pada kemuliaanmu. Memang demikianlah nasib wanita, ia hanya layak untuk menumpang pada kebahagiaan dan kemuliaan lelakinya, meski untuk menumpang itu saja ia harus menderita dan hidup celaka..

Rama : Sinta, cukup sudah segala kata-katamu. Sekarang buktikanlah kesucianmu. Kalau kau berani membuktikannya terjunlah ke dalam api yang kusediakan bagimu. Dan bila kau memang suci belum terjamah oleh Rahwana sedikit jua, takkan api menelanmu sampai binasa...

Laksmana: Rama, urungkan niatmu. Seharusnya keraguanmu sendiri yang harus dimurnikan oleh kesucian kekasihmu...

Sugriwa: Apa artinya pengorbanan kami selama ini kalau akhirnya kami mesti menyaksikan kesedihan ini. Tak terbayangkan oleh bangsa kera bahwa di dunia ini ada wanita seluhur Dewi Sinta. Mengapa manusia tak pernah puas akan apa yang sebenarnya telah menjadi miliknya?....

Wibisana: Rama, jangan kau menyia-nyiakan milikmu yang berharga seperti Dewi Sinta ini...

Trijata: Tak terbayangkan oleh hamba, paduka masih tega untuk meragukan pengorbanan dan kesucian Dewi Sinta junjungan hamba...

Anoman: Paduka, cincin paduka menyala ketika dikenakan di jari manis kekasih paduka. Tapi ingatlah paduka, permata Dewi Sinta tak menyala terang ketika paduka kenakan di dada paduka. Tidakkah keraguan paduka sendiri yang menuduh paduka, sampai paduka tidak tahan lalu melemparkan tuduhan itu pada kekasih paduka yang tak bercela?....

Sinta : Rama, sediakan api itu bagiku. Aku akan terjun ke dalamnya, karena memang demikianlah kehendakmu. Aku telah berbuat segala-galanya demi dirimu, mengapa aku takut akan api yang hendak menguji kesucianku? Rama, tak hendak aku membuktikan kesucianku, karena sejak pertama kali bertemu denganmu tak pernah aku menodai kesucian itu. Semata-mata aku hanya hendak menunjukkan betapa aku mencintaimu...

Maka disulutlah tumpukan kayu, api berkobar-kobar ke angkasa. Dalam sekejap Sinta tertelan dalam warna merah yang menyala-nyala.

Kera-kera menutup matanya tak tega menyaksikan api yang menyala di tengah kesucian itu. Para wanita berteriak, memohon para dewa melindungi kesucian itu. Para bidadari menitikkan air mata agar air mata itu dapat memadamkan api. Awan-awan sedih menghitam, merendah ingin menjatuhkan hujannya. Samudra melarikan ombaknya ke tepi daratan memaksa diri untuk melimpahkan airnya ke jilatan api yang membakar kesucian. Tapi api tak juga padam, Sinta makin tenggelam dalam bara yang menghanguskan.

Tapi anak-anak kera dan anak-anak raksasa bermain riang bersama. Mereka telah kehilangan ayah-ayah mereka yang mati dalam peperangan. Tapi tiada kesedihan, dendam dan permusuhan pada mereka. Dan mereka tiada peduli dengan api yang menghanguskan Sinta. Kegembiraan mereka seakan mengejek kisah Rama Sinta dan riwayat yang dialami orang tua mereka ternyata hanyalah mimpi yang berakhir dengan kesia-siaan belaka.........

Tidak ada komentar: