Tampilkan postingan dengan label In all days world. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label In all days world. Tampilkan semua postingan

Rabu, Agustus 10, 2016

Tikungan Berikutnya

Tikungan apa nih? Tikungan kehidupan, maksudnya what I intend to do in life, gitu. Dulu sudah kuceritakan tentang hidupku yang lengkap atau berwarna warni kan? Paska lulus sarjana Allah sudah memberiku kesempatan bekerja di industri farmasi, menjadi fully housewife, menjadi pengajar dan berwiraswasta. Kesempatan mencoba berbagai profesi itu ibarat tikungan-tikungan dalam kehidupanku.  Aku sering memikirkan what ‘s the next turn? Apa tikungan berikutnya?
Kalau ada umur dan kesehatan, aku ingin melewati 2 tikungan lagi. Yang pertama adalah menjadi penulis yang hasil tulisanku menjadi rujukan atau bisa menginspirasi banyak orang untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat. Yang kedua menjadi fully social worker. Ya nyemplung di organisasi non profit gitu yang bergerak membantu orang yang membutuhkan. Bisa di bidang kesehatan atau pendidikan.
Angan-angan itu sudah lama ada di benakku. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk merealisasikannya. Semoga Allah SWT memberiku kesempatan untuk itu. Amiiiin......


Rabu, Desember 10, 2014

Nasi Goreng Mbah Kanthi



Bulik Kanthi adalah nama istri salah satu paklik (paman) ku, adik misan dari almarhum papiku. Paklik sudah lebih dulu wafat, jadilah bulik sendiri menyantuni ketiga anak mereka yang sudah mulai beranjak dewasa.
Bulik Kanthi dulu bekerja serabutan. Pernah jadi kuli gendong di Pasar Legi Solo, kadang jadi penyeleksi kacang tanah juga di pasar Legi, juga pernah membantu ibuku mengurus rumah tangga di rumahku di Solo.
Saat Herlan, suamiku, dipindahtugaskan dari Madiun ke Surabaya, tahun 1999, aku benar-benar lagi repot. Dik Salman baru umur setahun dan aku tidak punya pembantu rumah tangga. Kebayang gak, kalo rumah tangga lagi normal tanpa pembantu dengan 3 anak umur 1, 5 dan 8 tahun masih terhandle olehku pada waktu itu. Tapi kalo pake pindahan rumah antar kota, wah gak sangguplah aku kalo sendiri. Karena itu terpaksa aku minta izin ibu untuk mengimpor Mbah Kanthi (anak-anakku memanggil bulik Kanthi dengan sebutan Mbah..) untuk ikut kami ke Surabaya selama 2 minggu, paling tidak sampai rumah kami di Surabaya tertata rapi.
Begitulah, Mbah Kanthi membantuku mulai dari ngepak barang-barang sejak di Madiun sampai beberes dan merapikan rumah kami di Surabaya. Bahu-membahu beliau juga membantuku memasak atau momong anak-anak saat aku membereskan rumah.
Singkat kata hampir 20 hari Mbah Kanthi membantuku sampai akhirnya beliau kembali ke Solo, membantu ibuku lagi di rumahku di Solo.
Waktu berjalan kemudian aku dengar kabar dari ibu kalao Mbah Kanthi sudah tidak membantu ibu lagi di rumah. Beliau berjualan ‘hik”. Tau ‘hik’ gak sih? ‘Hik’ itu sebenarnya gerobak mangkal yang dipakai untuk berjualan di malam hari. Dagangannya macem mulai dari nasi kucing, gorengan, pisang bakar, pisang owol, jadah bakar dan lain-lain. Minumannya sudah tentu wedang teh nasgithel, wedang jahe, kopi joss, es jeruk dan lain-lain juga. ‘Hik’ itu jadi tempat kongkow wedangan bagi kebanyakan masyarakat Solo. Memang citranya untuk kongkow masyarakat menengah ke bawah, tapi jangan salah ya dari sejak aku SMA ada ‘Hik’ yang jadi tempat kongkow semua lapisan masyarakat gak bergantung kelasnya. Apalagi yang nostalgia dengan teman-teman lama, orang-orang yang sekarang sudah gendut kantong uangnya, sudah jadi big boss tetep lebih seneng nge ‘Hik’.
Suatu ketika aku pas pulang ke Solo pas ada arisan Keluarga Besar dari Trah papiku di rumahku. Ada Mbah Kanthi di situ. Saat melihatku (setelah sekian lama tidak ketemu sejak pulang membantuku dari Surabaya) dia tersenyum lebar dan memelukku. Aku agak heran juga dengan sikapnya, karena biasanya dia tidak seperti itu.
“Dik Titik, terima kasih banyak ya, karena dik Titik saya jadi punya usaha yang alhamdulillaah laris, terima kasih banyak ya dik....”. Mbah Kanthi memang selalu memanggil anak-anak ibuku dengan sebutan dik. Kenapa? Karena Mbah Kanthi itu relatif masih muda, hanya beberapa tahun usianya lebih tua dari kakakku yang paling besar.
Aku heran banget. “Terima kasih karena apa, Lik? Kok gak ngerti aku....”
“Lupa ya dik? Mbak Lia, mas Akbar kan sangat seneng sarapan nasi goreng, dulu saya diajari dik Titik bikin nasi goreng, tiap pagi mbikinin nasi goreng buat Lia dan Akbar, saya jadi pinter bikin nasi goreng resepnya dik Titik. Kalo saya bikin nasi goreng biasanya gak enak. Sekarang saya jualan hik dik, saya bikin minuman, kalo makanannya banyak yang titipan orang. Yang saya bikin sendiri cuma nasi kucing sama nasi goreng resep dik Titik itu. Alhamdulillah nasi gorengnya paling laris dik, jadi andalan, semalam rata-rata laris 30-60 bungkus. Saya jual harga 3000 dik, alhamdulillah, terima kasih banyak ya dik Titik, kalo gak diajarin sama dik Titik lik e gak bisa punya usaha seperti sekarang ini.....”. Badanku masih dipegangi dan digoncang-goncangkan oleh Mbah Kanthi.
Aku ngowoh (baca: melongo) sambil mikir.
“Resep yang mana to lik rasanya nasi goreng saya biasa saja..”
“Ya resep yang dik Titik ajarkan ke saya, cara bikin sambelnya, nambahin kecap nya seberapa, pokoknya semuanya saya praktekkan dik. Kecuali cabenya tak tambahin soalnya orang-orang dewasa maunya pedes”
Masih ngowoh sambil mikir akhirnya kubilang,
“Alhamdulillaah, saya merasa gak ngajarin yang istimewa tapi kalo menjadi sesuatu yang istimewa buat bulik, alhamdulillaah lik. Ini yang namanya barakah ya lik, dulu lik Kanthi membantu saya, saya sangat berterima kasih, gak nyangka lik Kanthi memperoleh jalan untuk buka usaha yang laris. Alhamdulillaah saya ikut seneng lik, semoga terus maju, terus laris ya lik hik nya..”
“Iya dik, terima kasih, saya tidak akan melupakan jasa dik Titik..”
Demikianlah, nasi gorengku nasi goreng biasa saja. Anak-anakku sampai sekarang masih suka kalo aku bikin nasi goreng. Aku jadi ingat awalnya dulu di Surabaya Lia pernah protes nasi goreng Mbah Kanthi agak aneh, tapi setelah setiap hari yang membuatkan mbah Kanthi tidak ada lagi protes dari anak-anakku. Berarti Mbah Kanthi memang bisa memuaskan anakku atau memang beliau bisa memasak, memiliki cita rasa yang baik. Bakatnya itu mungkin belum disadarinya hingga dia mulai memasak nasi goreng untuk dijual. Jadi kupikir sebenarnya usaha Mbah Kanthi maju karena beliau memang bisa membuat nasi goreng yang enak. Jadi pujiannya tentu saja tidak pantas alias berlebihan untukku. Tapi sudahlah aku tidak akan mengurangi kebahagiaannya, yang penting pujian dan rasa terima kasihnya tidak membuatku besar kepala. Aku bersyukur saja bisa menjadi jalan untuk memajukan usahanya.
Sampai sekarang, setelah belasan tahun berlalu, Mbah Kanthi masih usaha hik dengan menu nasi gorengnya yang konon legendaris di kampungnya.......

Rabu, Desember 03, 2014

Tingkatan Manusia dalam Menyikapi Musibah



Sebagai muslim seharusnya kita meyakini bahwa semua musibah yang menimpa diri kita datangnya dari Allah SWT. Sudah jelas ajarannya bagaimana seharusnya kita menyikapi musibah.
Bergantung keadaan imannya, secara umum tingkatan manusia dalam menyikapi musibah yang menimpanya ada 4:
Yang pertama, manusia yang Bodoh
Tingkatan ini disebabkan oleh lemahnya hati, akal dan agama manusia yang bersangkutan.Manusia yang begini saat musibah menimpanya akan bereaksi hatinya menolak menerima musibah itu, mulutnya penuh dengan dampratan dan gestur (sikap badannya) pun mengingkari.

Yang kedua, manusia yang Sabar
Orang yang sabar itu hatinya masih menolak menerima cobaan atau musibah itu, tapi dia sudah lebih bisa menahan diri, mulutnya tidak mendamprat, gesturnya pun mengakui musibah itu datangnya dari Allah SWT, dan pasti ada hal-hal baik tersembunyi di balik musibah itu.

Yang ketiga, manusia yang Ridha
Orang yang ridha tingkatannya sudah lebih baik lagi. Hatinya menerima, mulut tidak memprotes (why me..? why me...?) dan gesturnya menerimanya sebagai cobaan atau ujian Illahi.

Yang keempat, manusia yang Bersyukur
Yang model ini adalah yang lahir batin bisa mengucap “Alhamdulillaah’  dalam segala situasi.

Itulah keempat maqom atau tingkatan manusia dalam menghadapi musibah. Meskipun belum bisa langsung ke tingkatan terakhir (syukur) seharusnya dari waktu ke waktu kita meningkat dari tingkatan bodoh, sabar, ridha hingga syukur. Insya Allaah.

Rabu, April 02, 2014

Opportunities of Today



Wise person, once advised me,...Between the hopes of tomorrow and the regrets of yesterday lies the opportunities of today......Yes, the opportunities of today is a certainty. As long as we fight for them, they’ll become an achievement. So, let’s take these opportunities everyday. Start with bismillaah, intend as a worship to Allah Azza wa Jalla, insha Allah the achievements are bliss, a blessed happy life.....
It’s late Wednesday, did we do any productive things today..?.....

Rabu, Maret 26, 2014

Ciri Pemimpin yang Baik



Al Qur’an memberi contoh ciri pemimpin yang baik pada sosok Jibril. Jibril adalah pemimpin para malaikat. Sifat Jibril digambarkan pada surah At Takwir (81) ayat 19-21.

19        : ....Jibril itu MULIA (kariim).... ..innahuu laqaulu rasuulin kariiim...
20        : ..KUAT (quwwah) dalam arti secara fisik dan mental, dan TAQWA kepada Allah
             (karena    disebutkan memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah yang memiliki
              ‘arsy)......dzii    quwwatin ‘indadzi ‘arsyi makiin...
21        : DITAATI oleh para pengikutnya (muthaain) dan DAPAT DIPERCAYA
             (amiin).....muthaain Tsamma amiin.....

Yang bersifat mulia itu pasti baik, baik itu pasti tidak fasik (tidak melanggar, entah itu peraturan, kesepakatan, perjanjian). Selain baik yang bersifat mulia memberi konotasi bersih, bersih dari perkataan kotor, tindakan kotor, maksiat, cabul.

Pemimpin pun  harus kuat fisik dan mental. Kuat fisik akan berkorelasi  dengan pemilihan  pola hidup yang sehat dan seimbang, memperhatikan gizi, membuang kebiasaan yang yang banyak madharat (rokok, khamr, stress), cukup olah raga dan pandai memilih cara relaksasi yang baik dan efisien. Kuat secara mental sama pentingnya dengan kuat jasmani. Kuat mental akan menjadi penentu bagi seorang pemimpin untuk senantiasa berpihak pada kepentingan masyarakat banyak dibandingkan pada kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Intinya sanggup ‘say no’ untuk mengakomodasi hal-hal yang dapat membawa keburukan, kerugian pada masyarakat dipimpinnya.

Takwa kepada Allah sudah tentu menjadi keharusan karena hanya orang bertakwalah yang akan sepenuhnya berjalan di jalan yang benar dan membawa orang yang dipimpinnya ke jalan yang benar dan lebih baik.

Secara pribadi seorang pemimpin harus memiliki kharisma, baik itu berasal dari kecerdasannya, keshalehannya dll, tetapi yang paling baik adalah dari teladan berupa hasil kerja konkrit yang ditunjukkannya. Kharisma itu akan memicu orang yang dipimpinnya untuk mentaatinya. Kharisma yang berbuah ketaatan akan sirna digerus waktu bila seorang pemimpin tidak melengkapi dirinya dengan sifat dapat dipercaya atau jujur. Sebenarnya dalam hubungan pemimpin dan yang dipimpin, sifat dapat dipercaya atau jujur ini memiliki kata kunci ‘tidak melanggar komitmen’ yang sudah dibuatnya sebagai seorang pemimpin. Sekali seorang pemimpin melanggar komitmen yang dibuatnya, akan sulit yang dipimpinnya mempercayainya (kembali). Sungguh lengkap ciri pemimpin yang baik yang sudah digambarkan oleh Al Qur’an.

Dalam Islam, semua manusia adalah seorang pemimpin. Bisa jadi kita adalah seorang imam dalam keluarga, atau kita seorang ibu yang memimpin putra-putrinya, atau seorang guru, atau seorang kepala pasukan militer, kepala daerah, CEO perusahaan dll. Kita semua kelak di hadapan Allah diminta pertanggungjawaban terhadap hasil dari apa yang sudah kita pimpin, dan dengan cara bagaimana kita memimpin. Mari kita introspeksi, sudahkah kita menjadi pemimpin yang baik, yang memimpin ke arah jalan yang baik, jalan yang di ridloiNya. Sudahkah kita memiliki sebagian atau semua sifat Jibril yang digambarkan dalam surah At Takwir yang disebut di atas.....?

Rabu, Maret 05, 2014

Lengkap atau Berwarna-Warni?



Jalan hidup seseorang sungguh tidak bisa ditebak. Sebenarnya kalau kita berpegang pada ajaran Islam tentunya kita sudah mafhum kalau Allah Sang Pencipta sudah menentukan jalan hidup kita. Kadang kita menginginkan sesuatu tidak tercapai tapi kita mendapatkan sesuatu yang lain. Atau kita menginginkan lewat satu jalan untuk mencapai tujuan tertentu tetapi karena sesuatu hal kita harus melewati jalan berputar atau berkelok-kelok untuk mencapai tujuan tertentu itu. Bahkan sesudah jalan memutar dan berkelok kita sampai pada tempat tujuan yang lain.

Di masa mudaku dulu (sekarang sudah estewe ...ihiks..) aku berangan-angan untuk tetap bekerja meskipun sudah menikah dan memiliki anak. Dan aku ingin bekerja di bidang yang dilatarbelakangi oleh jurusan yang kupilih saat kuliah. Sesaat rasanya angan-angan masa muda itu menjadi kenyataan. Selesai sarjana, pendidikan profesi dan menikah aku bekerja di industri farmasi yang sesuai dengan latar belang kuliahku. Tetapi karena tempat tugas suami sering berpindah (rata-rata 2 tahun suami dipindahkan kota tempat kerjanya) aku memilih untuk resign dari tempat kerja dan menemani anak-anak dan membantu mereka beradaptasi saat kami berpindah-pindah mengikuti suami. Setelah hampir 8 tahun bekerja di industri farmasi aku menjadi fully housewife (selama hampir 13 tahun).

Menjadi fully housewife selama itu ternyata membuat rasa percaya diriku menciut saat mau memulai lagi bekerja di bidang kefarmasian. Beberapa atau bahkan cukup banyak tawaran kerja datang dari teman-teman seangkatan waktu di Farmasi ITB. Mulai dari menggantikan mereka jadi APA (apoteker pengelola apotik) di apotik yang mereka kelola, jadi apoteker di instalasi FRS (farmasi rumah sakit) di sebuah rumah sakit yang baru buka di Bandung hingga balik masuk dapur industri farmasi lagi. Semua tidak ada yang aku respon saat itu. Tadinya sih penolakan itu berbuah prasangka dari teman-teman bahwa aku terlalu sombong tidak mau menjadi subordinat mereka (maklum teman-teman yang nawarin pekerjaan tentunya akan jadi bossku nantinya), tapi setelah aku jelaskan bahwa aku merasa sangat tidak pede untuk ‘tune in’ lagi, takut sudah jauh ketinggalan jaman dan tidak sanggup mengejar ketertinggalan itu sehingga aku tidak bisa menyelesaikan tugasku di tempat kerja dengan baik, alhamdulillah mereka pada ngerti dan balik memberiku semangat untuk mendongkrak rasa pede ku agar setidaknya mendekati seperti aku yang mereka kenal dulu. (Thanks alot Siti Maryam, Leni, Elza, Utari, Widarti dan teman-teman lain yang tidak bisa kusebut satu persatu, atas usaha kalian semua untuk menyemangatiku). 

Tapi semangat utama memang datang dari Herlan, suamiku. Sejak kembali dan menetap di Bandung Herlan selalu mendorongku bila aku ingin bekerja kembali. Dan ketika dia tau aku jadi orang yang gak pede, disuruhnya aku sekolah lagi, ambil S2, biar ingat masa sekolah dulu dan jadi ‘panas’ lagi kalo mau kerja lagi. Singkat cerita tawarannya aku sambut, dan alhamdulillaah setelah lewat berbagai formal test aku diterima dan jadi mahaiswi S2 di Sekolah Farmasi ITB. Hanya semester 1 saja yang kuingat kulalui dengan agak ‘banyak penyesuaian’, selanjutnya sekolah mengalir dengan banyak senengnya, karena memang dari dulu aku tu seneng sekolah. Alhamdulillah lulus pas 2 tahun dengan predikat ‘cum laude’.

Selesai sekolah wah.. gamang lagi. Ada beberapa tawaran pekerjaan tapi kok ya di luar Bandung, sementara aku harus tetep di Bandung ngawal anak-anak. Dalam keadaan menunggu kesempatan lain itu kuterima ajakan teman S2 ku untuk mengajar di sebuah institusi swasta yang ada jurusan farmasinya. Ini awal profesiku sebagai pendidik/pengajar. Ternyata mengajar itu menyenangkan, dan kutemukan kepuasan tertinggi bila para mahasiswaku dapat mengerti, memahami apa yang kuajarkan yang ditunjukkannya dengan hasil ujian yang bagus. Atau mereka dapat mengimplementasikan teori yang kuajarkan dalam praktikum yang dilakukannya dengan benar. Dua tahun mengajar akhirnya kuputuskan untuk berhenti. Bukan karena take home pay yang tidak memadai – dari awal mengajar sudah kuniatkan untuk berkhidmat saja- tetapi lebih karena merasa menjalani profesi yang serba tanggung. Gimana gak tanggung? Dosen sekarang harus disertifikasi oleh Depdiknas. Banyak syarat mendasar untuk sertifikasi itu rasanya tak mungkin bisa kupenuhi, antara lain karena aku tidak mau diangkat jadi dosen tetap di situ.  Sekolah tempatku mengajar menyelenggarakan sekolah untuk para karyawan yang ingin meneruskan S1 bidang farmasi. Para karyawan ini jam kuliahnya dari jam 17-21 setiap harinya. Dan Sabtu jam 07-17. Semua dosen tetap harus mengajar di waktu-waktu tersebut. Itu yang membuatku tidak sanggup. Aku meminta ketiga anakku kalau bisa maghrib sudah di rumah, lha kalau aku malah ngajar sampe jam 9 malam, ya aku yang melanggar aturanku sendiri. Sedang hari Sabtu adalah hariku ketemu dan meluangkan waktu bersama suami. Karena itu aku memilih jadi dosen tidak tetap dan hal ini yang membuat sulitnya aku disertifikasi. Jadilah aku resign sebagai guru (aku lebih suka dipanggil guru daripada dosen) di situ.

Resign jadi guru ternyata nasib mendamparkanku di kandangku yang lama, industri farmasi lagi. Adalah bekas bossku di pabrik obat tempatku bekerja dulu yang memanggilku dan meminta bantuanku untuk ‘solving problem’ di tempatnya bekerja sekarang, masih di Bandung. Dengan seizin Herlan kuterima permintaan bossku itu. Aku ‘mabrik’ lagi. Dan sebenarnya aku ‘homy’, tapi ternyata aku hanya bertahan 2 tahun. Banyak hal internal yang tidak membuatku terasah, tidak produktif, tidak solving problem dan happy. Tambah lagi banyak waktu yang dituntut Herlan untuk bisa menemaninya (kalo mabrik kadang kami juga harus kerja di hari Sabtu). Jadilah aku resign dari industri farmasi tempatku bekerja.

Jadi pengangguran membuat pikiranku usil pengin usaha ini itu. Dengan berbagai pertimbangan akhirnya kupilih usaha berjualan makaroni panggang. Awalnya aku buka di kios yang kami beli di Metro Indah Mall, trus akhirnya  buka juga di beberapa tempat yang lain....
Kalo nengok ke belakang rasanya hidupku (kalau gak bisa dikatakan lengkap) jadi berwarna warni.,  Dan tidak ada satupun yang aku sesali. Banyak yang aku syukuri. Allah memberiku kesempatan mencoba berbagai profesi. Memang aku belum pernah mencapai yang kuinginkan sampai di puncak. Sepertinya memang bukan itu yang kuimpikan. Mimpiku adalah semua yang kuusahakan mengubah lingkunganku menjadi lebih baik, memberiku dan mereka manfaat, tentu saja yang bernilai ekonomi, edukasi dan moral.

Puisi Tupac Shakur yang berjudul ‘And Tomorrow’ selalu mengingatkanku untuk keeping my dreams alive.....
........
But tomorrow I see change
a chance to build a new
Built on spirit intent of Heart and ideals based on truth
and tomorrow I wake with second wind
and strong because of pride
to know I fought with all my heart to keep my dream alive

Semoga Allah SWT memberkahi, amiin.