Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Family. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 16, 2016

Aku Memutuskan Gak Pergi, Bu….

Cerita ini terjadi di tahun 2005. Saat itu anak sulungku, Lia baru diterima di kelas 1 SMA N 3 dan baru sekitar 1 bulan sekolah di situ. Aku sudah agak lupa bagaimana koran Pikiran Rakyat itu ada di tanganku, sepertinya sih kubeli di jalan karena di rumah kami melanggan Harian Republika bukan Pikiran Rakyat..
Hari itu koran PR itu kok ya kubaca lembar demi lembar semuanya sampai berita duka citanya...Dari situlah kubaca pengumunan dari MOE (Minister of Education) nya Republik Singapura yang menawarkan beasiswa untuk bersekolah dua tahun di kelas terakhir setingkat SMP (Secondary) untuk dapat mengikuti ujian GCE ‘O’ Level dan dilanjutkan dua tahun setingkat SMA (Pre University) untuk dapat mengikuti ujian GCE ‘A’ Level di Singapura. Jadi ceritanya yang diterima di program beasiswa ini di Singapura akan masuk ke Secondary 3 (kelas 3 SMP, berarti bagi Lia mengulang karena saat itu dia sudah kelas 1 SMA), lalu dilanjut tahun depannya di Secondary 4 (kelas 4 SMP). Di sini dia akan mengikuti ujian GCE ‘O’ level (GCE = General Certificate of Education). Bila nilainya bagus, penerima beasiswa akan lanjut sekolah di Pre University (setara SMA). Pada akhir tahun kedua di Pre University penerima beasiswa akan diikutkan ujian GCE ‘A ‘ Level (GCE Advance).
Bunyi pengumuman itu penerima beasiswa akan menerima ‘free tuition’, free dormitory, ada stipend (uang saku) tahunan, fasilitas kesehatan  dll. Formulir pendaftaran program ini juga mudah diperoleh dan seterusnya.
Waktu iku iseng-iseng kuminta Lia membaca pengumuman itu. Awalnya dia cuek tidak tertarik. Ketika kubilang, ada kalanya kita perlu mencoba yang beginian mbak, untuk tahu kira-kira dimana tempatmu untuk seleksi yang beginian... Lia menjawab yuk coba saja bu...
Singkat cerita kami berdua, aku dan Lia  mengisi form pendaftaran beasiswa itu untuk Lia. Persyaratan administrasinya kita kirimkan. Dan kita woro-woro ke teman-teman Lia dan keponakan-keponakan yang mau mencoba. Dua minggu setelah mengirim aplikasi datanglah panggilan untuk test di Jakarta. Bersama Lia, keponakanku, Rani, dipanggil test juga. Jadilah hari (20 Agustus 2005) itu aku, suami dan kakakku mengantar Lia dan Rani test seleksi beasiswa itu di Hotel JW Marriot Jakarta. Test nya berupa test tertulis dengan materi test matematika (in English) dan bahasa Ingrris, dari jam 10.30 sampai jam 16.00. Peserta test tumplek blek di Hotel Marriot hari itu. Kata kakakku yang sempet ngobrol dengan panitianya, katanya peserta hari ini lebih dari 1000 orang. Test selesai, Lia, aku dan suamiku tidak ada beban sama sekali, sesuai tujuan kami di awal kita pengin coba kalo seleksi begini anak kita bisa dapat tempat gak.
Tiga minggu sesudah test itu ada surat pemberitahuan kalau Lia harus mengikuti test wawancara di Hotel Le Meredien Jakarta pada tanggal 25 September 2005. Undangan wawancara ini mempengaruhi aku dan Herlan, suamiku. Herlan yang tadinya tidak punya wacana jadi rajin browsing tentang pendidikan di Singapura. Dia jadi begitu bersemangat begitu mengetahui. bahwa sistem pendidikan di sana bagus dan lulusan GCE ‘A’ Levelnya dapat langsung diterima di universitas di luar negeri tanpa test (cukup melihat score di GCE ‘A’ levelnya saja). Dia berharap Lia diterima di program beasiswa ini. Sedangkan aku, lain lagi yang kupikirkan. Aku mengangankan kelak anak-anakku pada bisa beasiswa dan kuliah di luar negeri. Yang kuangankan adalah kuliah S2 atau S1, bukan SMA sudah di luar negeri. Kulihat Lia, dia cukup mandiri tetapi kalau sekarang rasanya terlalu dini untuk jauh dari rumah. Jadi panggilan wawancara yang membuat Herlan sangat antusias ini malah membuatku was-was dan khawatir. Yang bersangkutan, Lia, sepertinya cuek saja. Karena masih harus wawancara, kusimpan semua kekhawatiranku.
Pada hari wawancara kami hanya bertemu dengan salah satu kandidat yang juga diantar oleh orang tuanya. Keluarga Cina itu datang dari Surabaya. Dari mereka kami jadi tahu bahwa yang dipanggil wawancara hanya 45 orang. Wawancaranya ada waktu atau jam yang spesifik. Itulah sebabnya mereka baru datang mendekati jam wawancaranya, dan membuat kita tidak saling bertemu. Dari mereka juga kita mengetahui bahwa dari wawancara ini akan diambil 20 orang penerima beasiswa. Lia sudah diwawancara, dan pulanglah kami ke Bandung lagi. Aku dengan rasa khawatir yang kusimpan rapat.
Hari berlalu, sudah saatnya kutanya Lia tentang kesiapannya berangkat bila dia diterima. Jawabannya agak mengejutkanku. Gak tau bu, aku kan belum pernah ke sana. Kusampaikan jawaban Lia itu ke suamiku. Herlan masih berbesar hati, kalau dia diterima nanti pasti Lia akan lebih siap, kata Herlan. Tiap kali kuingatkan tentang siap gak sekolah di Singapura, Lia sepertinya malah menghindar dan gak mau ngomongin hal itu lagi.
Kubayangkan kalau Lia saat ini harus sudah jauh dari rumah. Kalo untuk sekolah, aku rela dan siap. Tapi untuk jauh dari rumah aku ragu-ragu, kenapa? Karena aku belum mempersiapkannya untuk jauh dari rumah. Aku barangkali telat mengajarinya...
Awal bulan Oktober 2005 datanglah surat itu...Lia adalah salah satu dari 18 orang yang lolos seleksi penerima beasiswa dari MOE nya Republik Singapura. Kabar itu adalah kabar gembira bagi Herlan yang pengin anak-anak kami nanti sekolahnya harus lebih dari kami berdua. Sedangkan aku bingung antara senang dan galau. Lia sendiri, datar saja malah cenderung tidak peduli.
Penerima beasiswa harus memberikan konfirmasi mau mengikuti program beasiswa ini ataukan tidak. Bila ya langkah selanjutnya adalah mengikuti pemeriksaan kesehatan dan pada akhir Oktober 2005 berangkat ke Singapura mulai persiapan bahasa dan memilih sekolah yang akan diikuti.
Herlan mulai menampakkan rasa khawatir ketika Lia keliahatan tidak antusias. Jawabnya awalnya pendek-pendek, sekolahnya di mana, temannya siapa saja, tinggalnya dimana, liburnya kapan, dst... Bapaknya cukup sabar menjelaskan segalanya sampai keuntungan bisa sekolah di sana dst. Selanjutnya Lia mulai menjawab aku sudah seneng sekolah di sini, dulu kan katanya kita cuma coba-coba saja dst...
Herlan memintaku untuk membujuk dan menasehati agar Lia mantab berangkat. Tapi aku sangat tau Lia, ada bagian yang membuat dia tidak nyaman dengan berangkat. Aku akan mendorong anakku untuk mengejar yang diinginkannya, asalkan diapun sepenuh hati melakukannya. Kalau cuma setengah hati, ragu-ragu, aku tidak sanggup. Ibaratnya aku dan suami hanyalah supporter, fasilitator, yang barangkali bisa menjadi bagian kesuksesannya. Tapi semangat Lia sendiri akan menjadi bagian besar penentu keberhasilan studinya.
Lia masih belum memberikan jawabannya, mau berangkat atau tidak. Saat itu Herlan ngantor di Jakarta. Hanya Sabtu Minggu dia pulang ke Bandung. Sampai kami makan malam di hari Minggu itu Lia belum kasi keputusan. Malam itu sambil berbaring Herlan bilang, begitu banyak orang menginginkannya tapi tidak diterima, anak kita diterima tapi seperti gak menginginkannya. Kita sudah sampai di sini, kita berdua tidak pernah sekolah di luar negeri. Semoga anak-anak kita kelak pada bisa sekolah dimanapun mereka menginginkannya. Aku speechless, kejepit di tengah-tengah. Kalau Lia gak jadi berangkat aku tau Herlan kecewa. Tapi kalau kubujuk Lia berangkat, aku khawatir ‘pemaksaan’ ini berakibat yang tidak baik bagi keberhasilan studinya. Kami tidur dengan pikiran kami masing-masing malam itu.
Senin subuh itu Herlan sudah bersiap-siap berangkat ke Jakarta (waktu itu Tol Cipularang belum ada jadi ke Jakarta harus lewat Puncak, sebelum subuh kudu sudah berangkat supaya jam 8 pagi sudah ada di kantor Jakarta). Ketika kutanya, Lia perlu kubangunkan? Herlan menjawab, gak usah, nanti pas sarapan tolong ibu tanyakan dia mau berangkat apa tidak. Kalau gak berangkat tanyain apa alasannya. Tadi malam bapak shalat malam, bapak sudah bisa menerima mbak Lia berangkat atau tidak. Bapak tidak mau dia berangkat dengan setengah hati. Pasti ada hikmahnya bagi kita semua... Rasanya plong banget suamiku  memiliki pemikiran begitu. Pemikiran itu datang sendiri bukan karena kuingatkan.  Aku senang dan bangga padanya. Kujanjikan apapun keputusan Lia pagi ini akan segera kuberitahukan padanya, karena dia yang harus ngefax surat konfirmasi ke MOE Singapura, menerima atau menolak beasiswa tersebut.
Pagi itu sebelum sarapan, di meja makan Lia berkata padaku, Bu, sudah kupikirkan baik-baik semalam, aku memutuskan gak pergi bu. Aku mau SMA di sini saja sampai lulus baru cari perguruan tinggi, gimana nanti. Tolong ya bu sampaikan ke Bapak nanti. Bapak gak marah to bu? Aku tersenyum, dan menjawab. Gak mbak, bapak gak marah. Boleh ibu tau, alasannya apa mbak memutuskan gak pergi? Lia mantab menjawab, sekarang aku belum bisa jauh dari ibu.... Aku sungguh merasa menjadi bagian penyebab ketidaksiapan anakku jauh dari rumah itu...
Pagi itu setelah anak-anak berangkat sekolah kutelpon Herlan dan kuberitahukan jawaban Lia. Aku masih mendengar nada kecewa di suaranya tapi kemudian dia semangat lagi. Ok bu sampai kantor akan bapak fax MOE Singapura kalau anak kita menolak beasiswanya.....
Seminggu sesudahnya pas berbaring berdua kukatakan, lesson of learn nya barangkali keinginan itu harus datang dulu dari anak-anak baru kita kasi fasilitasnya. Jangan kita fasilitasi sebelum mereka minta atau datang minat. Gampangnya jangan kita yang yang narik mereka dari depan, tapi seperti falsafah kita harus tutwuri, mendorong dari belakang. Kalau biasa ditarik dari depan kalau kita yang narik sudah capai mereka akan berhenti karena tidak tahu arah. Tapi kalau kita tutwuri dari awal merekalah yang cari arah sendiri. Kalau kita capai mendorongnya mereka tidak akan ikut berhenti kareana dari awal merekalah yang cari arah sendiri. Herlan mengiyakan. Tapi sedetik kemudian dia sudah ngomong, kemarin bapak ngeliat clavinova yang baru. Bapak mau beli biar Lia bisa mainin di rumah. Aku speechless, lha Lia kan gak minta dibeliin piano, jangan dulu beli piano. Barusan ibu bilang apa...Herlan enteng menjawab, gak papa dulu sudah bilang pengin kok, kalo kita beliin dia akan main..... Aku gak berkata apa-apa lagi. Seminggu kemudia Clavinova itu sudah distem di ruang tengah kami dan sepulang sekolah Lia sudah memainkan lagu kesukaannya di situ.
Dan kami mulai melupakan episode beasiswa itu sampai ketika kakak adik kami mengingatkan, kalian sih yang kurang memberi wawasan pada anak-anakmu tentang luar negeri. Singapura tu kan dekat banget dengan kita, mudah dikunjungi, bahasa juga banyak sama, jauh lebih maju. Kalau gak kalian kenalin gimana anak-anakmu mau sekolah di situ, tau aja enggak...

Nasihat mereka kayak setrum deh. Bener juga ya...kurang wawasan membuat anakku takut berangkat, takut jauh dari rumah. Jadilah awal tahun 2006 kami sekeluarga ke Singapura, mengenal negeri tetangga yang kemarin menawarkan beasiswa itu. Alhamdulillaah ada kemajuan...Akbar bilang aku mau sekolah di sini bu...kayaknya enak....

Selasa, Agustus 09, 2016

Stoooobei

This was the story of Akbar’s childhood. Akbar, my second child, at 5  still couldn’t spell ‘R’ fluently. His sister Lia often disturbed and trained him to spell contained ‘R’ words. His fovorite word to spell was ‘stroberry’. Lia trained him to spell stroberry again and again.

One afternoon while I was ironing Akbar came close to me,
Akbar : “Mommy..now I can spell ‘R’ fluently”..
Mommy: “Are you? Let mommy knows...”
Akbar : “Ok listen carefully mommy...stobei....see...stobei....”

What I had listened was the word ‘stobei’ without R..  I looked at him.

Akbar : “See mommy...I can spell it...stobei...stobei...stooobei..stooooobei..”

His mouth was ‘super monyong’. I was speechless, but smiled widely. He had been trained and had practiced so hard. I would not say any comments that made him disappointed. His best effords had to be appreciated. Felt blessed, I kissed Akbar’s hair.....

Mommy: “Good job mas Akbar...good job...”
Akbar: “Thank you mommy....stoooobei.....stooobei.....”

Akbar run, left me stunned, shaked my head  and then smiled widely...


Selasa, Juni 28, 2016

Keluargaku dan ITB

ITB yang kumaksud di sini adalah Institut Teknologi Bandung. Apa hubungan antara keluargaku dan ITB? Jawaban umumnya adalah hubungannya baik-baik saja. Heheh...
Yang ingin kutulis di sini adalah ternyata keluarga kecilku, aku, suami dan ke3 anakku diberi kesempatan untuk menjalani pendidikan ‘under graduate’ alias S1 di ITB. Alhamdulillaahi Robbil Aalamiin.
Tahun 1983, aku dan suamiku diterima di ITB. Aku lewat jalur Perintis 2 (tanpa test) di Jurusan Famasi, FMIPA ITB. Sedangkan Herlan suamiku melalui seleksi Sipenmaru (SBMPTN kalo jaman sekarang) diterima di jurusan Teknik Elektro FTI ITB. Jaman dulu diterima di ITB langsung di jurusan yang dipilih. Jadi tidak masuk fakultasnya dulu. Berapa biaya sekolah di ITB tahun itu? Dari 1983 sampe kami lulus tahun 1988/1989 uang SPP kami per semester adalah 42 ribu rupiah. Aku tidak bisa bilang ‘hanya’ 42 ribu rupiah....karena pada saat itu uang segitu bagi keluargaku dan keluarga suamiku pun sudah merupakan uang yang cukup besar.
Tahun 2008 anak sulungku Lia diterima di STEI ITB lewat jalur USM (ujian saringan masuk) pakai test yang dilakukan  sebelum UAN. Pada tahun itu ITB menerapkan 2 jenis ujian saringan masuk. Yang pertama adalah USM sebelum UAN dilakukan. Konsekuensi  bila diterima di tahap ini adalah membayar biaya pendidikan yang cukup besar, belum termasuk SPP per semester yang 2,5 juta rupiah per semester. Waktu Lia dulu adalah 45 juta rupiah. Sedangkan USM yang ke2 adalah yang dilakukan sesudah UAN dan sesudah hasil USM pertama diumumkan. Konsekuensinya adalah mahasiswa yang diterima cukup bayar uang SPP per semester saja (2,5 juta rupiah per semester).
Masih ingat nasihat teman-teman waktu itu agar Lia memilih USM ke2 karena Lia kan termasuk anak yang cerdas jadi pasti bisa nembus USM ke2 dan tidak harus bayar biaya pendidikan yang besar. Tetapi hampir semua teman SMA Lia (SMAN 3 Bandung) pada daftar di USM ke 1 jadi aku izinkan Lia mendaftar USM ke 1, mengikuti testnya dan ternyata dia diterima. Konsekuensi merogoh kocek 45 juta rupiah pun kami lakukan dengan legowo. Sangat impas dengan rasa lega karena anakku sudah mendapat tempat di perguruan tinggi yang baik di negeri ini. Satu tahun di TPB (tahun pertama bersama) baru tahun kedua Lia memilih  jurusan Telekomunikasi di STEI ITB. Alhamdulillaah, 4 tahun kemudian Lia lulus tepat waktu dan mengikuti wisuda di bulan Juli 2012. Lulus dengan predikat cum laude, alhamdulillaah...
Di tahun 2012 Akbar, dari SMAN 3 Bandung,  diterima di FTMD ITB lewat jalur undangan (tanpa test, seleksi berdasarkan nilai rapor SMA semester 1-5), dengan biaya pendidikan 55 juta dan SPP sebesar 5 juta per semester. Pada tahun itu ITB menerapkan 2 jenis tahap penerimaan mahasiswa baru. Yang pertama jalur undangan dan yang ke dua adalah jalur SBMPTN (test tertulis serempak). Yang lolos jalur SBMPTN hanya membayar uang SPP yang 5 juta/semester. Setahun di TPB, tahun kedua Akbar memilih sub Jurusan Mesin (umum) di FTMD ITB. Alhamdulillaah saat ini Akbar sedang mengerjakan skripsinya.
Sekarang tahun 2016, Salman (dari SMA Taruna Bakti Bandung) diterima di FITB ITB lewat jalur SNMPTN (tanpa test, seleksi berdasarkan nilai rapor SMA semester 1-5). Bulan Agustus 2016 yang akan datang in sya ALLah Salman akan memulai pendidikannnya di ITB, dan setelah masa TPB dia pengin memilih jurusan Teknik Geologi / Geodesi. ITB di tahun ini menerapkan 2 jalur penerimaan mahasiswa baru yaitu SNMPTN (tanpa test, sudah diumumkan tanggal 9 Mei yang lalu) dan SBMPTN (test tertulis serempak) diumumkan hari ini 28 Juni 2016. Baik yang diterima lewat jalur SNMPTN maupun jalur SBMPTN sama-sama membayar SPP 10 juta/semester.
Kasih sayang Allah pada keluargaku seperti tiada putusnya. DiberiNYa kami sekeluarga kesempatan untuk menikmati lingkungan pendidikan tinggi yang baik di negeri ini. Semoga kami dapat selalu mensyukurinya dengan jalan  menjadikan kami mandiri, menjadikan ilmu kami bermanfaat bagi orang di sekeliling kami, bermanfaat memajukan negeri ini dan memelihara bumi Allah ini. Aamiin yaa Rabb.

Saat ini tanggal 28 Juni 2016, menjelang jam 14.00. Menjelang diumumkannya hasil SBMPTN di seluruh Indonesia. Semoga anak-anak yang sedang menunggu hasilnya memperoleh jurusan seperti yang diidamkan semuanya. Aamiin....

Selasa, Desember 16, 2014

Mencari Tempat Kos di Jakarta Buat Lia



Anak sulungku, Lia, suatu ketika diterima bekerja di sebuah perusahaan IT yang berkantor di Energy Building di kawasan SCBD. Dulu aku sudah membayangkan hal seperti ini akan terjadi, sepertinya aku sudah mempersiapkannya. Tapi saat hal itu benar-benar terjadi rasanya tetep saja aku seperti orang yang tidak siap. Bukan karena membayangkan anak gadisku bakal jauh dariku, tetapi membayangkan kesiapannya untuk menaklukkan Jakarta.
Lia sebelum ini jarang sekali ke Jakarta, dalam arti ke Jakarta untuk urusannya sendiri dan sendirian. Awal ngantor di Jakarta, tanpa kendaraan pribadi, sudah pasti Lia harus mampu mengakrabi, menyiasati berbagai jenis sarana transportasi umum di Jakarta.
Sebagai orang tua, aku dan suami sudah sepakat, dengan berjalannya waktu  Lia akan  mengenal, membiasakan dan familiar dengan busway dan teman-temannya. Tapi untuk awal, kami akan mencari tempat kos yang paling dekat dengan kantornya sehingga memungkinkan dapat diakses dengan jalan kaki atau dengan transportasi umum yang sesingkat mungkin waktu tempuhnya.
Seminggu sebelum Lia mulai bekerja mulailah kami hunting tempat kos buat Lia. Sasarannya ya lokasi yang dekat dengan Energy Building, daerah sekitar Tulodong, sirip-sirip jalan Wolter Monginsidi dan sekitarnya. Ada beberapa tempat yang menurut kami nyaman, pantas, aman untuk dipakai kos an. Tapi herannya semua Lia enggan milih. Sesudah beberapa tempat ditolaknya aku mulai heran.
‘Kenapa mbak Lia nggak cocok terus? Yang pertama tadi kata ibu nyaman, keamanan juga ok. Yang kedua tadi sedikit kebesaran kamarnya, tapi lumayan juga. Yang ketiga memang kamarnya pengap. Kenapa mbak gak mau semua? Kita kan sepakat untuk kos pertama ini kita akan cari yang dekat kantor. Nanti kalau mbak sudah akrab dengan transportasinya mbak bisa cari yang agak jauh dari kantor,,,’, kataku.
‘iya sih bu, tapi.....’
‘Tapi apa mbak?’
‘Tapi masak sih, 3 bulan pertama ini gajiku kan 4,5 juta, lha masak yang 2 juta dipake ngekos. Gak bisa nabung dong aku....?’
Aku dan Herlan, suamiku. saling pandang, sebelum akhirnya kami tersenyum lebaaar. Anakku, begitu sudah bekerja dikiranya akan dilepas begitu saja oleh orang tuanya. Alangkah naifnya. Tapi aku bangga, dia punya pikiran dan keingainan begitu.
Herlan angkat bicara. ‘Gini mbak, selama menurutmu gajimu belum cukup, gimana kalo kos nya dibayar aja sama ibu? Tapi mbak harus tetep berusaha nabung ya...’
Lia mulai tersenyum. ‘Kalo gitu yaaaa gak papa kita ambil kos an yang pertama yang di Tulodong tadi  aja pak. Tapi kayaknya gak usah dibayar ibu semua deh, aku sanggup bayar separonya pak....’
‘Ok mbak, berarti ibu tetap transfer uang ke rekening mbak yang buat kos sejuta ya...’, kata Herlan lagi.
‘Ok pak...’
Mungkin banyak orang tua juga melakoni dialog dan adegan seperti di atas itu. Untuk ibu biasa sepertiku, semua itu membuatku terharu. Waktuku lebih banyak kugunakan sebagai ibu rumah tangga. Aku mengawal anak-anakku dari mereka kecil, mengawasi hampir semua tahap perkembangannya.  Melepas Lia mulai bekerja merupakan tahap yang membanggakan, sekaligus memberikan rasa was-was. Aku berikhtiar mengawal tapi sisanya kuserahkan pada Allah SWT untuk menjaga anak-anakku dimanapun mereka berada.
Hasbunallaahu wani’mal wakiiil......

Rabu, April 02, 2014

5 Metoda Mendidik Anak dalam Islam



Tulisan ini harusnya kuposting kemarin......
Banyak teori cara mendidik anak. Sebagai muslimah akupun berpegang pada ajaran islam dalam mendidik anak. Dari beberapa buku dan ceramah dalam majelis taklim dapat aku simpulkan metoda mendidik anak yang diajarkan dalam Islam adalah sebagai berikut:
Yang pertama, tarbiyah bil uswatun hasanah.
Artinya mendidik dengan cara memberi teladan yang baik. Mendidik agar anak kita shalat dengan cara kitapun melaksanakan shalat dengan baik, benar, tepat waktu. Mendidik menghormati orang tua dengan cara kitapun hormat, santun, menyayangi orang tua kita. Mendidik agar anak tidak bermaksiat dengan cara kita menjauhi maksiat, dan seterusnya.
                
Yang kedua, tarbiyah bil adaabil Islaam.
Artinya mendidik dengan kebiasaan yang diajarkan dalam Islam. Dari kecil anak-anak kita diajarkan tentang kebiasaan dalam Islam yang bersifat wajib dan sunnah seperti shalat fardhu, puasa ramadhan, membaca Al  Qur’an, mambaca bismillah dan hamdallah, menghapal doa dan menerapkan dalam keseharian dan sebagainya.

Yang ketiga, tarbiyah bil nashihah.
Artinya mendidik dengan memberikan nasihat. Tidak sekedar isi nasihat yang harus baik dan bermanfaat. Tetapi cara menyampaikan nasihat pun harus diperhatikan, yaitu dengan sikap yang lembut dan dengan suara yang menyejukkan (tidak keras).

Yang keempat, tarbiyah bil musaqabah / musyahadah.
Artinya mendidik dengan memberikan perhatian. Perhatian terbaik adalah dengan berada di sisi anak pada saat mereka memerlukan kita. Baik memerlukan kita untuk berbagi kegembiraan ataupun kesedihan mereka.

Yang kelima, tarbiyah bil ‘uqubah.
Artinya mendidik dengan memberikan hukuman. Hukuman yang dimaksud di sini adalah hukuman yang mendidik, bukan hukuman untuk menganiaya. Saat anak-anak kita melakukan kesalahan ada kalanya kita perlu memberikan hukuman kepada mereka agar mereka benar-benar menyadari bahwa yang mereka lakukan adalah suatu kesalahan dan tidak akan diulanginya di kemudian hari. Yang perlu diperhatikan adalah hukuman yang kita berikan harus melihat umur mereka , artinya cara menghukum anak balita dan remaja tentu saja harus dibedakan jenis dan caranya.

Anakku ada 3, dan mereka ada yang sudah dewasa dan ada yang masih di ambang kedewasaan. Aku merasa masih banyak kekuranganku dalam mendidik mereka. Tapi bagiku tidak ada kata terlambat, aku akan terus berusaha menjadi ibu yang menanamkan pendidikan yang baik bagi mereka, baik moral, agama maupun pendidikan formal.

Cara mendidik anak secara Islam sebenarnya dapat dirangkum dalam wasiat Luqman Al Hakim yang dimuliakan  Allah dicantumkan dalam Al Qur’an surah Luqman (QS 31) ayat 13-19. Wasiat Luqman akan kutulis tersendiri nanti.

Selasa, Maret 25, 2014

Cabuk Rambak



Sudah lama aku nggak nulis tentang kuliner. Hari ini Selasa, saatnya aku nulis tentang family, aku memilih untuk menulis tentang Cabuk Rambak. Barangkali anda ada yang kenal dengan cabuk rambak? Cabuk rambak itu nama sejenis makanan khas Solo, bentuknya irisan ketupat yang disiram bumbu, pelengkapnya adalah  kerupuk karak. Bumbunya itu terbuat dari parutan kelapa yang dicampur dengan biji wijen yang digoreng sangrai, dan diuleg dengan bawang putih, garam, gula pasir, gula merah, cabe, kemiri goreng dan daun jeruk purut. Ulegan ini akan berupa pasta, yang bila diencerkan dengan air putih matang, konsistensinya akan seperti bumbu pecel yang kita kenal. 
 

Cabuk rambak ini sudah menemaniku sejak masa kecilku. Di SD makanan jajan favoritku adalah cabuk rambak. Penjualnya seorang simbah yang sudah sepuh, tiap jam sekolah pasti sudah duduk nemplek di dinding luar sekolahku. Dia duduk di atas ‘dingklik’ kecil. Di hadapannya terdapat tenggok  dan tampah yang diletakkan di atas tenggoknya. Tenggok itu berisi daun pisang, dan “pincuk” dari daun pisang. Terus di atas tampahnya biasanya ada ketupat utuh dan irisan ketupat, bumbu yang masih padat dan yang sudah diencerkan dengan air. Di sebelahnya ada krupuk karak yang diwadahi dengan plastik.


Kalau ada yang beli si mbah akan mengambil pincuk , menata irisan ketupat di pincuk itu, menyiram ketupatnya dengan bumbu, mencucukkan sebatang lidi (seperti tusuk gigi) di atas salah satu ketupat sebagai alat untuk menyantap, dan meletakkan kerupuk karak di atasnya, baru menyerahkannya pada pembeli. Tampilan akhir sebelum kita konsumsi adalah seperti gambar di bawah ini.

Waktu aku masih SD harga sepincuk cabuk rambak hanya Rp 5,- (baca: lima rupiah).  Sekarang sepertinya harganya 5-6 ribu rupiah sepincuk.
Aku sudah meninggalkan Solo sejak tahun 1983, dan sejak itu hanya sekali-sekali aku pulang ke Solo. Tiap kali pulang pasti kusempatkan mampir ke Manahan untuk jajan cabuk rambak. Anakku Lia juga sangat menyukainya. Cabuk rambak memang sering ‘ngangeni’ (baca: bikin kangen), abis makanan itu yang aku tau hanya ditemukan di Solo. Jadi memang kuliner  warisan leluhur dan legendaris, patut dilestarikan. Kadang aku berpikir, kalau kupopulerkan di Bandung, bisa laku jual gak ya......?