Selasa, November 03, 2009

Perempuan dalam Serat Centhini….

Anda sekalian pernah dengar mengenai Serat Centhini? Serat Centhini ini adalah suatu karya sastra yang digubah sekitar tahun 1815 oleh tiga orang pujangga Kraton Surakarta yaitu Yasadipura 11, Ranggasutrasna, dan
R. Ng. Sastradipura (Haji Ahmad Ilhar) atas perintah K.G.P.A.A.
Amengkunegara II atau Sinuhun Paku Buwana V.
Postingku kali ini tidak akan mengupas tuntas Serat Centhini yang terdiri dari jilid I hingga XXII dan terdiri dari 722 tembang. Aku hanya ingin mengomentari tentang perempuan yang ditulis dalam serat itu.
Serat Centhini menggambarkan sosok perempuan (istri) ideal ibarat lima jari tangan. Ibarat jempol, istri harus pol mengabdi kepada suami. Ibarat telunjuk, istri harus menuruti segala perintah suami. Ibarat panunggul (jari tengah), istri harus mengunggulkan suami bagaimanapun keadaannya. Ibarat jari manis, istri harus selalu bersikap manis. Ibarat jejenthik, istri harus selalu hati-hati, teliti, rajin, dan terampil melayani suami. Mengingat tahun digubahnya Serat itu, gambaran sosok perempuan itu memang cocok untuk peran perempuan Jawa pada masa lalu, yang konon diyakini hanya sebatas lingkup dapur (memasak), sumur (mencuci), dan kasur (melayani suami). Ekstremnya, seperti adagium: yen awan dadi theklek, yen bengi dadi lemek (kalau siang jadi sandal, kalau malam jadi selimut), jika siang hari berperan sebagai pembantu, sedangkan pada malam hari sebagai “penghangat” tubuh suami. Jadi, peran kaum perempuan Jawa tak lebih sekadar kanca wingking yang harus manut, taat, sendika dhawuh, dan rela diperlakukan sesuai kehendak suami; tanpa argumentasi.
Peradaban telah jauh berkembang baik di tanah Jawa maupun dunia. Suatu falsafah kalau diyakini suatu hal yang benar dan adil pada semua pihak, pasti tidak akan berkurang penganutnya. Gambaran Serat Centhini terhadap perempuan ideal yang menjadikan perempuan selalu dalam posisi subordinasi suami telah banyak kehilangan penganut. Mengapa? Ya karena falsafah itu tidak adil pada kaum perempuan. Disamping itu sepertinya falsafah itu menjadikan perempuan pasif dan cenderung bodoh, dan hal ini ternyata tidak mendukung kemajuan kaum lelaki juga.
Lihatlah kebanyakan perempuan Jawa sekarang, peran mereka (aku yakin) sudah jauh mengalami pergeseran dari yang disebut ideal dalam Serat Centhini itu. Nggak jamannya lagi deh seorang istri hanya hanya menunggu kepulangan sang suami sekadar ingin mencopot sepatu yang diyakini sebagai simbol kesetiaan. Kesempatan memperoleh pendidikan dan pemahaman tentang ajaran agama (Islam) telah banyak mengubah peran itu.
Aku sendiri wanita Jawa dan dalam batas tertentu aku masih mengadopsi nilai-nilai positif dari falsafah Jawa mengenai bagaimana seharusnya etika, kesetiaan, kelembutan wanita. Akan tetapi aku juga sangat ingin menghapus mitos kanca wingking itu. Untuk itu aku berusaha untuk mandiri, memiliki inisiatif, mau belajar untuk menggapai ilmu, kreatif dan berusaha profesional bila berkiprah di sektor publik tanpa harus kehilangan rasa dan naluri sebagai seorang ibu yang perhatian bagi anak-anak dan suami, tetap memiliki kesetiaan, rasa hormat, etika, kelembutan, harga diri dan martabat yang tinggi.
Jadi kelihatan kan bedanya dengan sosok perempuan dalam Serat Centhini yang totally surrender to their husband. I won’t. We’ll face the future together, hand in hand with trust and allegiance, or you can also apart, break the rule and I won’t wait for you, I will be standing here, blessing my life with dignity…..

Tidak ada komentar: